Kamis, 24 Januari 2013

BNN Pacu Produktivitas Mantan Pecandu



Mengatasi masalah adiksi bukan perkara mudah. Setelah para pecandu ini pulih dari ketergantungannya, masalah tidak berhenti sampai di sini, karena pasca pulih dari kecanduan narkoba mereka dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Apakah mereka bisa terus clean dan  kembali produktif? Atau apakah mereka masih bisa diterima oleh keluarga atau lingkungannya?
Pertanyaan besar ini menjadi persoalan yang cukup pelik, dan menyita pemikiran yang sangat serius, tidak terkecuali oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai leading sector dalam upaya pemulihan para mantan pecandu narkoba melalui program pascarehabilitasi.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh BNN bersama dengan mitra lainnya baik itu instansi pemerintah dan juga swasta. Hasilnya, sedikit demi sedikit titik pencerahan mulai tampak.
Kepala BNN, Anang Iskandar menegaskan bahwa akselerasi program pascarehabilitasi harus terus diaktualisasikan dan dalam pelaksanaannya harus  merangkul berbagai pihak terutama pihak swasta. Beberapa waktu lalu, Kepala BNN bahkan menghimbau pada orang-orang kaya di Indonesia untuk aktif membantu program rehabilitasi dan pascarehabilitasi. Sehingga,  para mantan pecandu narkoba mendapatkan ruang untuk memiliki kesempatan kerja.
Kepala BNN juga meminta agar media massa untuk turut berkontribusi secara aktif dalam penyajian informasi penting terkait dengan aspek pascarehabilitasi di negeri ini.
Sementara itu, dalam perbincangan yang cukup singkat dan hangat, bersama dengan Direktur Pascarehabilitasi BNN, Drs Suyono, MM, MBA dijelaskan dengan gamblang bahwa upaya pembentukan karakter dan pembangunan mental kepada para mantan pecandu narkoba dalam program pascarehabilitasi memang harus dimulai dari hati.
Bicara dari hati ke hati, serta  rasa tak kenal lelah  baik itu dari segi tenaga, pikiran dan waktu telah  menjadi makanan sehari-hari bagi para tokoh atau pegiat yang terlibat langsung dalam upaya pemulihan para mantan pecandu narkoba.
“Jika semua dimulai dari hati, dan mereka tersentuh, maka akan mudah bagi kita untuk mendorong dan memberikan semangat pada mereka”, ujar Direktur kepada reporter Humas BNN.

Optimalisasi Rumah Dampingan
Menurut Suyono, salah satu bentuk komitmen BNN dalam membentengi para mantan pecandu agar tidak kambuh menyalahgunakan narkoba, adalah melalui optimalisasi rumah dampingan. Rumah dampingan bentukan BNN ini terletak di Jalan Cipinang Besar 1A, Jakarta Timur.
Ketika ditanyakan sasaran apa yang ingin dicapai dari program rumah dampingan ini, Direktur Pascarehab menjelaskan bahwa program ini diimplementasikan untuk membangun komunikasi dan jaringan di antara para pecandu narkoba. Sehingga mereka dapat mendapatkan kemudahan untuk mencari tempat yang nyaman bagi mereka untuk bersosialisasi dan menata dirinya, lalu membuka kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan.
Secara garis besar, ada empat aspek yang ingin dicapai dari rumah dampingan ini. Pertama, para mantan pecandu ini akan mendapatkan kemampuan bersosialisasi yang lebih baik. Para mantan pecandu narkoba ini akan bertemu dengan orang-orang yang kompeten dan berkualitas sehingga mereka akan menyerap ilmu dan pengalaman sehingga pada akhirnya dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lebih baik.    
Selain mendapatkan kemampuan dalam bersosialisasi, mantan pecandu juga difasilitasi dengan pelayanan kesehatan yang cukup baik. Di tempat ini tersedia dokter yang siap untuk memeriksa kesehatan para mantan pecandu dengan prima.
Yang tak kalah penting, mental para mantan pecandu ini harus kokoh. Karena itulah rumah dampingan juga memiliki program yang khusus menyentuh spiritual  masing-masing individu melalui peran tokoh agama.
Dari pantauan tim Humas BNN, rumah dampingan yang diberi nama “Sober House” ini, dikoordinir oleh satu tim yang terdiri dari 6 orang konselor.
Hampir setiap dua bulan sekali, rumah dampingan ini menerima 20 mantan pecandu untuk tinggal dan menjalani program di rumah dampingan ini. Serangkaian program yang disediakan oleh tim rumah dampingan merupakan langkah optimalisasi institusi ini untuk membentuk karakter-karakter mantan pecandu yang lebih tangguh.
Selama satu pekan penuh, mereka diberikan program yang bervariasi. Setiap pagi dalam sepekan, para mantan pengguna narkoba disuguhi program open circle. Melalui kegiatan ini, mereka diberikan ruang untuk mencurahkan apa yang mereka rasakan ketika bangun tidur. Kebanyakan memang merasakan rasa penat, bosan, kesal, dan perasaan buruk lainnya. Sementara itu bagi peserta lain yang justru memiliki mood yang bagus, juga diminta untuk membagi perasaannya dengan yang lain. Kegiatan ini setiap harinya rutin dilakukan, terutama setiap pagi hari.
Program lainnya yang diberikan adalah support group (dukungan kelompok), positive act (kegiatan positif), open discussion (diskusi terbuka), seminar, dan vocational skill (pelatihan keterampilan kerja).
Khusus terkait aspek pelatihan kerja, tim konselor di rumah dampingan ini telah menawarkan konsep pada para mantan pecandu. Tim konselor mengadakan psikotes pada para mantan pecandu sehingga dapat diperoleh minat dan keingingan mereka ke depan.
Asah Keterampilan Untuk Tembus Dunia Kerja
Fredi, salah satu konselor di rumah dampingan ini mengatakan, timnya akan menyalurkan minat para mantan pecandu narkoba, yang tujuannya adalah para mantan pecandu memiliki keahlian yang dapat diaktualisasikan di masa depan.
“Jika mereka menginginkan bermain musik, maka kami salurkan mereka untuk berlatih music, dan jika mereka ingin berlatih mekanik, maka kita akan dorong mereka untuk mengikuti pelatihan tentang mekanik”.
Menurut Febri, pihak konselor hanya mendampingi dan membimbing mereka, namun jika memang si mantan pecandu itu tidak ingin maju, maka hal itu kembali lagi ke masing-masing mantan pecandu.
Namun, tim konselor tidak akan henti-hentinya memberikan dorongan dan juga pencerahan kepada para mantan pecandu. Karena faktanya memang banyak sekali mantan pecandu yang mudah kehilangan semangat, lalu malas melakukan apa pun.
“Kuncinya, kami akan bicara dari ke hati, dan kami ajak mereka flashback, dan biarkan mereka bercermin tentang apa yang sudah mereka lakukan selama ini, baik itu hal buruk ataupun hal yang bagus”, ujar Febri.
Dari sejumlah mantan pecandu narkoba yang sudah pulih, tidak sedikit di antara mereka yang sudah bisa kembali bekerja, berwiraswasta bahkan kembali ke bangku pendidikan.
Dikatakan oleh Suyono, hal tersebut menjadi kebanggaan teresendiri, karena para mantan pecandu ini dapat produktif kembali. Pada tahun 2012 lalu, sudah ada dua orang mantan pecandu narkoba yang berhasil menjalani magang di sebuah tempat pembuatan souvenir atau karya kerajinan tangan lainnya. Kini kedua mantan pecandu itu telah mampu menghidupi dirinya sendiri dan juga keluarganya, melalui pembuatan barang-barang kerajinan tangan.
Pada dasarnya keinginan para mantan pecandu untuk memiliki pekerjaan atau mata pencaharian itu cukup tinggi. Menurut Suyono, banyak di antara mantan pecandu yang menjadi klien rumah dampingan ini, lebih tertarik untuk menekuni wiraswasta, seperti membuka konter handphone, bengkel motor, atau cuci steam motor.
Semakin banyak pecandu yang produktif, secara otomatis mereka dapat menjadi role model yang ideal dan dapat jadi inspirasi bagi mantan pecandu lainnya yang ingin bangkit dari keterpurukannya.
“Para mantan pecandu yang sudah berhasil mendapatkan pekerjaan dan mata pencaharian, sering datang ke rumah dampingan dan berbagi pengalaman. Harapannya para mantan pecandu bisa bangkit, dan tentu saja jangan sampai relaps”, kata Suyono.
Saat memberikan wejangan pada lebih dari 20 mantan pecandu, di rumah dampingan, Rabu (23/1), Suyono mengingatkan pada para mantan pecandu untuk dapat membangun potensi diri agar tidak tergilas dengan pertumbungan sosial ekonomi yang kian berkembang. Menurutnya, pertumbuhan penduduk yang tidak relevan dengan lapangan kerja yang tersedia menjadi malah yang krusial bagi semua orang, termasuk para mantan pecandu narkoba.
“Jika tidak memiliki kemampuan yang prima, lalu apakah bisa bertahan di tengah kerasnya Jakarta?” imbuh Suyono.
Para mantan pecandu mutlak harus produktif, karena jika tidak mereka sangat mungkin untuk kembali kambuh dan terjebak dalam penyalahgunaan narkoba lagi.
Terus Berikan Pencerahan
Oleh karena itulah, para mantan pecandu ini harus senantiasa berbenah, dan mengggali potensi diri semaksimal mungkin.
Salah satu langkah konkret rumah dampingan BNN dalam upaya pencerahan bagi mantan pecandu narkoba adalah melalui Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Fokus) , pada Rabu (23/1). BNN mengumpulkan 20 mantan pecandu untuk mendapatkan pengarahan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Dalam forum diskusi dua arah ini, para peserta menanggapi materi yang disampaikan dengan cukup responsif. Tidak sedikit di antara peserta diskusi ini yang berbagi pengalaman terkait dengan sulitnya mendapatkan pekerjaan, hingga masalah diskriminasi di dunia kerja.
Terkait dalam dunia usaha atau dunia ketenegakerjaan, memang banyak sekali masalah yang timbul. Salah satunya adalah stigma negatif yang melekat pada diri mantan pecandu narkoba. Bagi mereka yang bertato atau bertindik dan kebetulan mantan pecandu narkoba, seringkali mengalami kesulitan tersendiri saat melamar sebuah pekerjaan.
Para mantan pecandu berharap agar stigma itu hilang, dan tidak ada diskriminasi sehingga mereka dapat menjalani dunia profesi yang sama normalnya dengan orang lain. Bahkan, seseorang yang dipecat dari sebuah perusahaannya tidak mendapatkan pesangon gara-gara orang itu menjadi korban kecanduan narkoba.
Menanggapi hal ini, Eva Trisyana, selaku Kepala Sub Direktorat Penempatan Tenaga Kerja, di Direktorat Jenderal Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri (PTKDN), Kemenakertrans RI mengaku pihaknya akan terus memaksimalkan perannya, terutama dalam pengawasan pada dunia kerja yang dinilai seringkali melakukan diskriminasi.
“Memang ini akan menjadi pekerjaan besar bagi kami, namun melalui diskusi tadi, kami banyak mendapatkan masukan yang aspiratif, terkait dengan banyaknya mantan pengguna narkoba yang tidak mendapatkan hak-haknya, karena itulah, kami akan melakukan pengawasan yang lebih komprehensif”, kata Eva kepada Humas BNN.
Sementara itu, sesuai dengan domainnya, pihak Dirjen PTKDN, akan lebih memperhatikan nasib para mantan pecandu narkoba yang kesulitan mendapatkan mata pencaharian karena kemampuan yang terbatas.
Langkah konkretnya adalah melalui optimalisasi pelatihan-pelatihan vokasional yang tersebar di wilayah Jakarta bagi para mantan pengguna narkoba yang memang membutuhkan keterampilan kerja, sehingga nantinya mereka akan semakin terasah dan dapat berdayaguna di tengah masyarakat.
“Dengan pelatihan ini, kami ingin menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada mereka, sehingga angka pengangguran di kalangan mantan pecandu narkoba akan terminimalisir”, pungkas Eva.
Melalui kegiatan diskusi tentang dunia ketenagakerjaan ini diharapkan para mantan pecandu atau recovering addict dapat memetakan segala permasalahan yang berkaitan dengan hambatan dan kesulitan dalam memperoleh kesempatan kerja sehingga mereka dapat memahami situasi kerja yang nyata, yaitu  tidak seimbangnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dengan jumlah tenaga kerja, stigma yang tinggi, diskriminasi serta tingkat pendidikan yang rendah. Sehingga,  para recovering addict dapat termotivasi untuk meningkatkan keterampilan guna bersaing di pasar kerja dan juga termotivasi untuk menciptakan lapangan kerja sendiri sehingga para recovering addict dapat kembali hidup produktif di tengah – tengah masyarakat.
Salah seorang peserta diskusi, Antonius Redika, mengaku antusias dengan kegiatan diskusi ini. Menurutnya, wacana dunia usaha atau ketenagakerjaan memang sangat penting untuk terus dipahami oleh para mantan pecandu narkoba. Dari penjelasan yang dipaparkan oleh pejabat Kemenakertrans tadi telah membuka matanya bahwa dunia kerja sangat terbuka  oleh mantan pecandu narkoba sekalipun, karena memang faktanya banyak pelatihan kerja yang  tersedia, dan  dapat jadi bekal untuk berwirausaha.
Harapan Anton tidak muluk, ia hanya berdoa untuk tetap menjadi orang yang baik, tidak kambuh menyalahgunakan narkoba lagi, dan terus bisa berkarya untuk bisa berguna bagi orang lain.
Memasuki tahun baru, telah tampak upaya-upaya yang sedang berjalan, dan akan diproyeksikan di masa yang akan datang dalam konteks optimalisasi kinerja pascarehabilitasi.
Banya aspek yang sangat mungkin untuk digarap lebih matang, dan banyak peluang yang terbuka lebar untuk dimaksimalkan. Namun semua itu memang butuh jalan yang panjang, berliku, tapi BNN akan tetap optimis menatap masa depan. Namun semua itu akan sia-sia jika mental para mantan pecandu itu tetap stagnan dan terpuruk. (bk)









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar